Jumat, 24 Mei 2013

Spermatozoa


BAB I

PENDAHULUAN

 1.1              Latar Belakang

Dalam system reproduksi, jantan memiliki organ genetalia primer yang berfungsi memproduksi spermatozoa, yang di sebut testis. Spermatozoa di produksi oleh testis. Proses pembentukan spermatozoa oleh testis di sebut spermatogenesis. Spermatozoa adalah unit penting yang berperan dalam system reproduksi gar dapat menghasilkan keturunan. 

Spermatozoid atau sel sperma atau spermatozoa (berasal dari Bahasa Yunani Kuno yang berarti benih dan makhluk hidup) adalah sel dari sistem reproduksi jantan. Sel sperma akan membentuk zigot. Zigot adalah sebuah sel dengan kromosom lengkap yang akan berkembang menjadi embrio. Peran aktif spermatozoon sebagai gamet jantan sehingga penting pada keberhasilan munculnya individu baru oleh karena itu di dalam reproduksi sering diperlukan adanya standar kualitas spermatozoa. Analisis sperma yang dimaksud meliputi pemeriksaan jumlah milt yang dapat distriping dari seekor ikan jantan masak kelamin, kekentalan sperma, warna, bau, jumlah spermatozoa mati, motilitas (bila mungkin kemampuan gerak per menit) dan morfologi (ukuran dan bentuk kepala, ukuran ekor, berbagai penyimpangan, ada tidaknya akrosoma).

Spermatozoa di produksi oleh testis, spermatogenesis harus berlangsug sempurna agar kualitas sperma yang dihasikan baik dan dapat maksimal melakukan fertilisasi. Spermatogenesis terjadi melalui beberapa tahapan-tahapan yang sepesifik.

Proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa disebut spermatogenesis. Spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus. Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang bertujuan untuk membentuk sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di tubulus seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis. Dinding tubulus seminiferus tersusun dari jaringan ikat dan jaringan epitelium germinal (jaringan epitelium benih) yang berfungsi pada saat spermatogenesis. Pintalan-pintalan tubulus seminiferus terdapat di dalam ruang-ruang testis (lobulus testis). Satu testis umumnya mengandung sekitar 250 lobulus testis. Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel benih) yang disebut spermatogonia.

 Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel tubulus seminiferus. Spermatogonia terus-menerus membelah untuk memperbanyak diri, sebagian dari spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu untuk membentuk sperma.

Pada tubulus seminiferus terdapat sel-sel induk spermatozoa atau spermatogonium, sel Sertoli, dan sel Leydig. Sel sertoli berfungsi memberi makan spermatozoa sedangkan sel lyedict yang terdapat di antara tubulus seminiferus berfungsi menghasilkan testosteron.
 
1.2              Tujuan 

Praktikum embriologi tentang pengamatan spermatozoa bertujuan mengamati perkembangan spermatozoa dan untuk mengenal bentuk spermatozoa.

1.3              Manfaat

Dengan di adakannya praktikum tentang pengamatan spermatozoa ini, di harapkan mahasiswa/I dapat membedakan perbedaan fisiologi dan morfologi spermatozoa normal dan abnormal, perbedaan antara spermatozoa beberapa species yang berbea serta mengetahui factor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi perkembangan spermatozoa.



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


Organ penghasil gamet sperti testis dan ovarium, terbentuk melalui gametogenesis. Proses pembentukan gamet jantan (sperma) disebut spermatogenesis. Sedangkan pembentukan gamet betina (ovum) disebut oogenesis.Bentuk sel sperma pada prinsipnya dibedakan menjadi 4 bagian yaitu kepala, akrosom, bagian tengah (leher), dan ekor. Ovum juga terbagi menjadi 3 bagian yaitu inti sel, membran sel, dan zona pelucida. Masing-masing gamet dihasilkan oleh organ-organ reproduksi jantan dan betina. Selain itu, terdapat berbagai macam hormon yang membantu proses gametogenesis tersebut (Isnaeni, 2006).

Bentuk sperma dibawah ini adalah bentuk sperma yang abnormal menurut Jauhari (2005):
·         Makro :Ukuran kepalanya lebih besar dari ukuran kepala normal.
·         Mikro :Ukuran kepala lebih kecil dari ukuran kepala normal.
·         Taper :Sperma tampak kurus, lebar kepalanya setengah dari kepala normal, dan tidak memiliki batas yang jelas antara akrosom dengan kepala.
·         Piri :Kepala tidak jelas, hanya tampak leher dan ekor saja.
·         Amorf :Bentuk kepala ganjil, permukaan tidak rata, dan tidak terdapat batas yang jelas antara akrosom dan kepala.
·         Round :Bentuk kepala seperti lingkaran dan tidak menunjukkan akrosom.
·         Cytoplasmic droplet : menempel pada kepala, warna lebih erah.
·         Ekor abnormal : ekor pendek atau spiral.

Menurut Salisbury (1985), spermatozoa yang normal memiliki kepala , leher, dan ekor. Bagian depan dinding kepala yang mengandung DNA, tampak sekitar 2/3 bagian yang tertutup oleh akrosom. Akrosom mengandung sejumlah enzim hidrolitik yang berfungsi agar sperma dapat menembus lapisan sel telur. Tempat sambungan dasar akrosom dan kepala disebut cincin nucleus yang menjadi leher sperma. Leher tersebut berisi banyak mitokondria. Ekor sperma berupa cambuk yang berfungsi untuk membantu pergerakan sperma. Spermatozoa abnormal merupakan spermatozoa yang memiliki bentuk berbeda dari sperma normal. Sperma ini terdapat pada individu fertil maupun infertil. Bentuk abnormal terjadi karena berbagai gangguan dalam spermatogenesis. Pergerakan sperma yang baik dan fertilisasi yang bagus dapat dilakukan dengan cryopreserving semen dengan methanol 10% atau 20% (Jensen, dkk., 2008).

Struktur sel sperma sesuai dengan fungsinya terbagi menjadi 4 bagian yaitu akrosom, kepala, bagian tengah (leher), dan ekor. Akrosom erupakan tudung bagi kepala sperma yang mengandung enzim untuk membantu sperma menembus sel telur. Pada kepala sperma terdapat nucleus haploid. Di belakang kepala sperma terdapat leher yang mengandung sejumlah besar mitokondria. Ekor sel sperma berfungsi untuk membantu pergerakan sel (Campbell, dkk., 2004).

Sperma adalah sel yang diproduksi oleh organ kelamin jantan dan bertugas membawa informasi genetik jantan ke sel telur dalam tubuh betina. Spermatozoa berbeda dari telur yang merupakan sel terbesar dalam tubuh organisme adalah gamet jantan yang sangat kecil ukurannya dan mungkin terkecil. Spermatozoa secara struktur telah teradaptasi untuk melaksanakan dua fungsi utamanya yaitu menghantarkan satu set gen haploidnya ke telur dan mengaktifkan program perkembangan dalam sel telur (Sistina, 2000).



BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1       Alat dan bahan

1. Mikroskop
2. Cawan Petri
3. Sperma sapi dan tikus
4. Objek glass
5.Giemsa atau eosin
6.Alat bedah
7.NaCl fisiologis

3.2       Cara kerja

1.      Ambillah cairan yang mengandung spermatozoa yang berasal dari testis , epididimis atau vas deferen sapi atau kambing.
2.      Jika cairan itu pekat larutkan dengan NaCl fisiologis, kemudian teteskan cairan pada objek glass yang bersih. Dengan objek glass yang lain dioleskan setipis mungkin dan fikasi dengan cara melewatkannya diatas api.
3.      Warnai dengan Giemsa atau eosin, selama 3-5 menit. Cuci dengan air mengalir. Selanjutnya keringkan kembali, periksa dibawah mikroskop.


BAB IV
 
HASIL DAN PEMBAHASAN

7.1              Hasil
Spermatozoa masak terdiri dari :
1.            Kepala (caput)
2.            Leher (cervix)
3.            Badan (corpus)
4.            Ekor (cauda)
sperma tikus


sperma sapi


Spermatozoa Abnormal

            Berikut adalah contoh-contoh spermatozoa abnormal :




Daftar  Pustaka
Campbell, Neil A., Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell.2004.BIOLOGI.Erlangga.Jakarta.
Isnaeni, Wiwi.2006.Fisiologi Hewan.Kanisius.Yogyakarta.
Jauhari, M.A. 2005. Penyediaan Induk dan Benih Bermutu serta Teknik Pembesaran Ikan. Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Balai Budidaya Air Tawar. Sukabumi.
Jensen, N.R., M. D. Zuccarelli, S. J. Patton, S. R. Williams, S. C. I reland, dan K. D. Cain.2008. Cryopreservation and Methanol Effects on Burbot Sperm Motility and Egg Fertilization.Volume 70. American Fisheries Society.
Salisbury. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi. Gadjah Mada Univercity. Yogyakarta.
Sistina, Yulia. 2000. Biologi Reproduksi. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar