BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Dalam
system reproduksi, jantan memiliki organ genetalia primer yang berfungsi
memproduksi spermatozoa, yang di sebut testis. Spermatozoa di produksi oleh
testis. Proses pembentukan spermatozoa oleh testis di sebut spermatogenesis.
Spermatozoa adalah unit penting yang berperan dalam system reproduksi gar dapat
menghasilkan keturunan.
Spermatozoid
atau sel sperma atau spermatozoa (berasal dari Bahasa Yunani Kuno yang berarti
benih dan makhluk hidup) adalah sel dari sistem reproduksi jantan. Sel sperma
akan membentuk zigot. Zigot adalah sebuah sel dengan kromosom lengkap yang akan
berkembang menjadi embrio. Peran aktif spermatozoon sebagai gamet jantan
sehingga penting pada keberhasilan munculnya individu baru oleh karena itu di
dalam reproduksi sering diperlukan adanya standar kualitas spermatozoa.
Analisis sperma yang dimaksud meliputi pemeriksaan jumlah milt yang dapat
distriping dari seekor ikan jantan masak kelamin, kekentalan sperma, warna,
bau, jumlah spermatozoa mati, motilitas (bila mungkin kemampuan gerak per
menit) dan morfologi (ukuran dan bentuk kepala, ukuran ekor, berbagai
penyimpangan, ada tidaknya akrosoma).
Spermatozoa
di produksi oleh testis, spermatogenesis harus berlangsug sempurna agar
kualitas sperma yang dihasikan baik dan dapat maksimal melakukan fertilisasi.
Spermatogenesis terjadi melalui beberapa tahapan-tahapan yang sepesifik.
Proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa disebut spermatogenesis.
Spermatogenesis terjadi di tubulus seminiferus. Spermatogenesis mencakup
pematangan sel epitel germinal melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel,
yang bertujuan untuk membentuk sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di
tubulus seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis. Dinding tubulus
seminiferus tersusun dari jaringan ikat dan jaringan epitelium germinal
(jaringan epitelium benih) yang berfungsi pada saat spermatogenesis.
Pintalan-pintalan tubulus seminiferus terdapat di dalam ruang-ruang testis
(lobulus testis). Satu testis umumnya mengandung sekitar 250 lobulus testis.
Tubulus seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel
benih) yang disebut spermatogonia.
Spermatogonia terletak
di dua sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel tubulus seminiferus.
Spermatogonia terus-menerus membelah untuk memperbanyak diri, sebagian dari
spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap perkembangan tertentu untuk
membentuk sperma.
Pada tubulus seminiferus terdapat sel-sel induk spermatozoa
atau spermatogonium, sel Sertoli, dan sel Leydig. Sel sertoli
berfungsi memberi makan spermatozoa sedangkan sel lyedict yang
terdapat di antara tubulus seminiferus berfungsi menghasilkan testosteron.
1.2
Tujuan
Praktikum
embriologi tentang pengamatan spermatozoa bertujuan mengamati perkembangan
spermatozoa dan untuk mengenal bentuk spermatozoa.
1.3
Manfaat
Dengan di
adakannya praktikum tentang pengamatan spermatozoa ini, di harapkan mahasiswa/I
dapat membedakan perbedaan fisiologi dan morfologi spermatozoa normal dan
abnormal, perbedaan antara spermatozoa beberapa species yang berbea serta
mengetahui factor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi perkembangan
spermatozoa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Organ penghasil gamet sperti
testis dan ovarium, terbentuk melalui gametogenesis. Proses pembentukan gamet
jantan (sperma) disebut spermatogenesis. Sedangkan pembentukan gamet betina
(ovum) disebut oogenesis.Bentuk sel sperma pada prinsipnya dibedakan menjadi 4
bagian yaitu kepala, akrosom, bagian tengah (leher), dan ekor. Ovum juga
terbagi menjadi 3 bagian yaitu inti sel, membran sel, dan zona pelucida.
Masing-masing gamet dihasilkan oleh organ-organ reproduksi jantan dan betina.
Selain itu, terdapat berbagai macam hormon yang membantu proses gametogenesis
tersebut (Isnaeni, 2006).
Bentuk sperma
dibawah ini adalah bentuk sperma yang abnormal menurut Jauhari (2005):
·
Makro :Ukuran kepalanya lebih besar dari ukuran kepala normal.
·
Mikro :Ukuran kepala lebih kecil dari ukuran kepala normal.
·
Taper :Sperma tampak kurus, lebar kepalanya setengah dari kepala
normal, dan tidak memiliki batas yang jelas antara akrosom dengan kepala.
·
Piri :Kepala tidak jelas, hanya tampak leher dan ekor saja.
·
Amorf :Bentuk kepala ganjil, permukaan tidak rata, dan tidak terdapat
batas yang jelas antara akrosom dan kepala.
·
Round :Bentuk kepala seperti lingkaran dan tidak menunjukkan akrosom.
·
Cytoplasmic droplet : menempel pada kepala, warna lebih erah.
·
Ekor abnormal : ekor pendek atau spiral.
Menurut Salisbury (1985),
spermatozoa yang normal memiliki kepala , leher, dan ekor. Bagian depan dinding
kepala yang mengandung DNA, tampak sekitar 2/3 bagian yang tertutup oleh
akrosom. Akrosom mengandung sejumlah enzim hidrolitik yang berfungsi agar
sperma dapat menembus lapisan sel telur. Tempat sambungan dasar akrosom dan
kepala disebut cincin nucleus yang menjadi leher sperma. Leher tersebut berisi
banyak mitokondria. Ekor sperma berupa cambuk yang berfungsi untuk membantu
pergerakan sperma. Spermatozoa abnormal merupakan spermatozoa yang memiliki
bentuk berbeda dari sperma normal. Sperma ini terdapat pada individu fertil
maupun infertil. Bentuk abnormal terjadi karena berbagai gangguan dalam
spermatogenesis. Pergerakan sperma yang baik dan
fertilisasi yang bagus dapat dilakukan dengan cryopreserving semen dengan
methanol 10% atau 20% (Jensen, dkk., 2008).
Struktur sel sperma sesuai dengan
fungsinya terbagi menjadi 4 bagian yaitu akrosom, kepala, bagian tengah
(leher), dan ekor. Akrosom erupakan tudung bagi kepala sperma yang mengandung
enzim untuk membantu sperma menembus sel telur. Pada kepala sperma terdapat nucleus
haploid. Di belakang kepala sperma terdapat leher yang mengandung sejumlah
besar mitokondria. Ekor sel sperma berfungsi untuk membantu pergerakan sel
(Campbell, dkk., 2004).
Sperma adalah sel yang
diproduksi oleh organ kelamin jantan dan bertugas membawa informasi genetik
jantan ke sel telur dalam tubuh betina. Spermatozoa berbeda dari telur yang
merupakan sel terbesar dalam tubuh organisme adalah gamet jantan yang sangat
kecil ukurannya dan mungkin terkecil. Spermatozoa secara struktur telah
teradaptasi untuk melaksanakan dua fungsi utamanya yaitu menghantarkan satu set
gen haploidnya ke telur dan mengaktifkan program perkembangan dalam sel telur
(Sistina, 2000).
BAB
III
METODE
PRAKTIKUM
3.1 Alat
dan bahan
1. Mikroskop
2.
Cawan Petri
3.
Sperma sapi dan tikus
4.
Objek glass
5.Giemsa
atau eosin
6.Alat
bedah
7.NaCl
fisiologis
3.2 Cara
kerja
1.
Ambillah cairan yang mengandung
spermatozoa yang berasal dari testis , epididimis atau vas deferen sapi atau
kambing.
2.
Jika cairan itu pekat larutkan
dengan NaCl fisiologis, kemudian teteskan cairan pada objek glass yang bersih.
Dengan objek glass yang lain dioleskan setipis mungkin dan fikasi dengan cara
melewatkannya diatas api.
3.
Warnai dengan Giemsa atau eosin,
selama 3-5 menit. Cuci dengan air mengalir. Selanjutnya keringkan kembali,
periksa dibawah mikroskop.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
7.1
Hasil
Spermatozoa
masak terdiri dari :
1.
Kepala
(caput)
2.
Leher
(cervix)
3.
Badan
(corpus)
4.
Ekor
(cauda)
![]() | ||
| sperma tikus |
![]() |
| sperma sapi |
Spermatozoa Abnormal
Berikut
adalah contoh-contoh spermatozoa abnormal :
Daftar
Pustaka
Campbell, Neil A., Jane B. Reece,
dan Lawrence G. Mitchell.2004.BIOLOGI.Erlangga.Jakarta.
Isnaeni, Wiwi.2006.Fisiologi
Hewan.Kanisius.Yogyakarta.
Jauhari, M.A. 2005. Penyediaan
Induk dan Benih Bermutu serta Teknik Pembesaran Ikan. Direktorat Jendral
Perikanan Budidaya Balai Budidaya Air Tawar. Sukabumi.
Jensen, N.R., M. D. Zuccarelli,
S. J. Patton, S. R. Williams, S. C. I reland, dan K. D. Cain.2008.
Cryopreservation and Methanol Effects on Burbot Sperm Motility and Egg
Fertilization.Volume 70. American Fisheries Society.
Salisbury. 1985. Fisiologi
Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi. Gadjah Mada Univercity. Yogyakarta.
Sistina, Yulia. 2000. Biologi
Reproduksi. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar